Hoo Eng Djie, Penyair Nada yang Menyatukan Makassar
Profil Hoo Eng Djie: penyair, penyanyi, pencipta Ati Raja, pelopor rekaman keroncong Makassar, dan jejak lintas budayanya yang tetap dihormati.

Profil singkat Hoo Eng Djie
Kajian Universitas Hasanuddin menggambarkan Hoo Eng Djie sebagai tokoh Peranakan Tionghoa asal Maros yang menulis lirik dan puisi dalam bahasa Makassar. Namanya juga ditemukan dengan sejumlah ejaan dan nama pena, antara lain Ho Eng Djie, Hoo Eng Dji, Baba Tjoi, dan A. Batjoi.
Sumber ilmiah tidak selalu seragam mengenai tahun lahir dan wafatnya. Sejumlah kajian menempatkan masa hidupnya pada sekitar awal abad ke-20 hingga sekitar 1960. Karena perbedaan tersebut, profil ini tidak memaksakan tanggal pasti ke dalam structured data.
- Nama
- Hoo Eng Djie
- Nama lain
- Ho Eng Djie, Hoo Eng Dji, Baba Tjoi, dan A. Batjoi
- Asal
- Maros, Sulawesi Selatan
- Peran
- Penyair, penyanyi, pencipta lagu, dan penggerak keroncong Makassar
- Masa aktif yang terdokumentasi
- Era kolonial, pendudukan Jepang, dan awal Republik Indonesia
- Karya yang dikenal
- Ati Raja, Sailong, dan Amma' Ciang
Ketika bahasa Makassar menjadi bahasa pilihan
Hal paling penting dalam perjalanan Hoo bukan sekadar asal keluarganya, melainkan pilihan kebudayaannya. Sebagai seorang Peranakan Tionghoa, ia menulis dalam bahasa Makassar dan mengolah pengalaman masyarakat di sekitarnya menjadi syair serta lagu.
Pilihan itu membuat karya Hoo menjadi ruang perjumpaan. Identitas Tionghoa, lingkungan Maros dan Makassar, tradisi kelong, serta perkembangan musik modern tidak berdiri saling menolak. Semuanya bertemu dalam satu praktik kreatif yang memperluas gambaran tentang siapa yang dapat menjadi pelaku budaya Makassar.
Kajian Universitas Hasanuddin menempatkan kiprahnya pada masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan awal Republik. Perubahan politik yang besar tidak menghentikan kegiatannya menulis. Bahasa Makassar menjadi benang yang menghubungkan berbagai fase tersebut.
Pelopor keroncong dan rekaman Makassar
Penelitian dalam jurnal Dewa Ruci menempatkan Hoo sebagai tokoh penting dalam pertumbuhan awal keroncong Makassar dan perkembangan langgam Makassar. Ia tidak hanya menulis teks, tetapi ikut membentuk cara syair lokal hadir di dalam musik populer pada zamannya.
Pada sekitar 1938 sampai 1940, Hoo melakukan rekaman bersama Canary di Surabaya. Perjalanan tersebut memperlihatkan jaringan produksi musik yang telah menghubungkan Makassar dan pusat rekaman di Jawa sebelum kemerdekaan.
Rekaman pada masa itu memiliki arti lebih dari dokumentasi suara. Ia memungkinkan kelong bergerak melampaui pertunjukan langsung, bertemu pendengar baru, dan bertahan sebagai jejak sejarah. Hoo berada pada salah satu titik awal perubahan tersebut.
Ati Raja, karya yang melampaui penciptanya
Ati Raja menjadi karya yang paling kuat melekat pada nama Hoo Eng Djie. detikSulsel mencatatnya sebagai lagu Makassar ciptaan Hoo, sementara Pemerintah Kota Makassar dan ANTARA memberitakan film Ati Raja yang mengangkat perjalanan serta kecintaannya kepada kebudayaan Sulawesi Selatan.
Daya tahan sebuah lagu tidak hanya terletak pada seberapa sering ia diputar. Ati Raja tetap hadir karena dapat dibawakan ulang, dibaca dalam konteks sejarah, dan dipakai untuk mengingat tokoh yang mungkin tidak sempat dikenal langsung oleh pendengar hari ini.
Film yang memakai judul Ati Raja memperluas jejak itu dari bunyi ke gambar. Kisah Hoo menjadi bahan untuk membicarakan cinta pada bahasa, hubungan lintas budaya, dan tempat seorang seniman dalam sejarah kota.
Ribuan kelong dan ukuran sebuah pengabdian
Sejumlah kajian memperkirakan Hoo menulis ribuan kelong dan lagu, dengan angka yang sering disebut mendekati tiga ribu. Jumlah tersebut sebaiknya dibaca sebagai perkiraan dari warisan yang sangat luas, bukan katalog final yang seluruh judulnya telah diverifikasi satu per satu.
Di koleksi Hoo Eng Djie dalam arsip kami, baru sebagian kecil karya yang tersedia, termasuk Ati Raja, Sailong, dan Amma' Ciang. Keterbatasan itu tidak berarti karya lainnya hilang, tetapi menunjukkan betapa besar pekerjaan dokumentasi yang masih tersisa.
Menyebut angka besar tanpa konteks dapat berubah menjadi hiasan. Yang lebih bermakna adalah melihat pola pengabdiannya: menulis terus-menerus, memakai bahasa lokal dengan kemahiran, merekam karya, dan membangun jembatan antara tradisi lisan serta teknologi musik modern.
Warisan lintas budaya yang terasa sangat Makassar
Hoo Eng Djie membantah gagasan bahwa kebudayaan hanya dapat dirawat oleh orang dengan satu latar keturunan. Ia menjadi bagian dari Makassar melalui kerja bahasa, musik, dan kehidupan sosial. Kedekatan itu bukan tempelan, melainkan hasil keterlibatan yang panjang.
Karena itu, kisahnya relevan melampaui sejarah musik. Ia memberi contoh tentang kebudayaan sebagai ruang partisipasi. Seseorang dapat datang dengan identitas yang berlapis, lalu memperkaya tempat tinggalnya tanpa harus menghapus asal-usul.
Bagi pembaca hari ini, posisi tersebut menjadikan Hoo tokoh penting dalam percakapan tentang Indonesia yang majemuk. Karyanya terdengar sangat Makassar justru karena lahir dari perjumpaan, bukan dari batas yang ditutup rapat.
Ketika kota mengembalikan namanya ke ruang publik
Pada 2025, Pemerintah Kota Makassar menetapkan perubahan nama Jalan Jampea menjadi Jalan Hoo Eng Djie melalui Keputusan Wali Kota Makassar Nomor 740/188.4.45/Tahun 2025. Keputusan resmi tersebut membawa namanya dari arsip musik ke ruang kota yang dilewati setiap hari.
Penghormatan semacam ini penting karena warisan seniman sering bertahan di lagu, tetapi tokohnya perlahan tidak dikenali. Nama jalan memberi kesempatan agar orang bertanya siapa Hoo Eng Djie, mengapa ia dihormati, dan bagaimana Ati Raja lahir.
Namun, penghormatan terbaik tidak berhenti pada papan nama. Ia berlanjut melalui pencatatan kredit, perawatan arsip, penelitian yang terbuka terhadap koreksi, dan kebiasaan mendengarkan karya dengan memahami konteks penciptanya.
Penyair nada yang menyatukan Makassar
Hoo Eng Djie meninggalkan warisan yang sukar dimasukkan ke satu kategori. Ia penyair sekaligus musisi, tokoh Peranakan sekaligus pelaku budaya Makassar, penjaga kelong sekaligus bagian dari perkembangan rekaman modern.
Dari semua lapisan itu, satu hal terasa paling kuat: ia menggunakan seni untuk membuat identitas dapat saling bertemu. Selama Ati Raja dan kelong-kelongnya masih dinyanyikan, Hoo tidak hanya dikenang sebagai tokoh masa lalu. Ia terus hadir sebagai suara tentang Makassar yang luas, terbuka, dan dibangun bersama.
Pertanyaan umum tentang Hoo Eng Djie
Jawaban ringkas berdasarkan profil dan referensi yang tercantum pada halaman ini.
Siapa Hoo Eng Djie?
Hoo Eng Djie adalah penyair, penyanyi, dan pencipta lagu keturunan Tionghoa asal Maros yang menulis dalam bahasa Makassar dan berperan dalam perkembangan keroncong serta langgam Makassar.
Apa lagu Hoo Eng Djie yang paling terkenal?
Ati Raja adalah karya yang paling kuat dikaitkan dengan Hoo Eng Djie. Karya lain yang tersedia dalam arsip kami antara lain Sailong dan Amma' Ciang.
Benarkah Hoo Eng Djie menciptakan tiga ribu lagu?
Sejumlah kajian memperkirakan warisannya mendekati tiga ribu kelong dan lagu. Angka itu sebaiknya dipahami sebagai perkiraan, bukan katalog final yang seluruh judulnya telah diverifikasi.
Kapan Hoo Eng Djie hidup?
Ia aktif pada masa kolonial, pendudukan Jepang, dan awal Republik Indonesia. Publikasi ilmiah memuat variasi tahun lahir dan wafat, sehingga profil ini tidak menetapkan tanggal pasti.
Mengapa ada Jalan Hoo Eng Djie di Makassar?
Pada 2025, Pemerintah Kota Makassar menetapkan perubahan nama Jalan Jampea menjadi Jalan Hoo Eng Djie sebagai bentuk penghormatan resmi terhadap warisannya.
Referensi
Sumber diperiksa pada tanggal yang tercantum. Tautan eksternal dapat diperbarui oleh penerbitnya.
- 1.Hoo Eng Djie: Peranakan Chinese Poet in Makassar
Universitas Hasanuddin melalui Garuda Kemdiktisaintek. Diakses 25 Juli 2026.
- 2.Keroncong in Makassar and Hoo Eng Djie's Role
Dewa Ruci, Institut Seni Indonesia Surakarta. Diakses 25 Juli 2026.
- 3.Keputusan Wali Kota Makassar Nomor 740/188.4.45/Tahun 2025
JDIH Pemerintah Kota Makassar. Diakses 25 Juli 2026.
- 4.Iqbal Suhaeb Apresiasi Film Ati Raja Produksi Sineas Makassar
Pemerintah Kota Makassar. Diakses 25 Juli 2026.
- 5.Gubernur Sulsel akan nobar Film Ati Raja bersama warga
ANTARA Makassar. Diakses 25 Juli 2026.
- 6.Lirik Lagu Ati Raja, Aksara Lontara hingga Terjemahannya
detikSulsel. Diakses 25 Juli 2026.
- 7.Hoo Eng Djie dalam Sejarah Kebudayaan Makassar
Lensa Budaya, Universitas Hasanuddin. Diakses 25 Juli 2026.
- 8.Hoo Eng Djie from Archipel article 1983
Wikimedia Commons. Diakses 25 Juli 2026.
Transparansi artikel
Artikel ini ditulis secara independen dan tidak menerima pembayaran dari pihak yang disebutkan. Jika ada konten kerja sama, label sponsor akan ditampilkan secara jelas di bagian atas artikel. Baca Pedoman Editorial untuk standar sumber, koreksi, dan kerja sama kami.